liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
liveslot168
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
Cocol88
bosswin168
bosswin168 login
bosswin168 login
bosswin168 rtp
bosswin168 login
bosswin168 link alternatif
boswin168
bocoran rtp bosswin168
bocoran rtp bosswin168
slot online bosswin168
slot bosswin168
bosswin168 slot online
bosswin168
bosswin168 slot viral online
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
cocol88
lotus138
bosswin168
bosswin168
bosswin168
maxwin138
master38
master38
master38
mabar69
mabar69
mabar69
mabar69
master38
ronin86
ronin86
ronin86
cocol77
cocol77
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
ronin86
Seperti di Amsterdam, Pekerja Seks di Bali Juga Menolak Punah


Denpasar

Pekerja seks di Distrik Lampu Merah Amsterdam menolak untuk diusir. Sama seperti di Amsterdam, PSK di Bali juga menolak mati.

Sejumlah pekerja seks komersial (PSK) terlihat antre di kawasan Jalan Danau Tempe, Sanur, Denpasar, Bali pada Rabu (11/1/2023) siang. Mereka menunggu tamu di berbagai tempat karaoke.

Salah satu PSK yang bekerja di tempat karaoke di Jalan Danau Tempe adalah Putri (bukan nama sebenarnya). Senyum wanita berkulit sawo matang ini semakin melebar saat menyapa kami.

IKLAN

GULIR UNTUK LANJUTKAN KONTEN

Perempuan berkaos ketat abu-abu dan rok mini itu langsung dibawa masuk ke sebuah ruangan yang terletak di belakang ruang karaoke. Sebuah ruangan dengan kasur berwarna merah dan dilengkapi dengan kipas angin merupakan tempat sang Putri berhubungan seks dengan para tamunya.

Kamarnya tidak berpintu dan hanya menggunakan gorden berwarna biru. Tisu dapat ditemukan di tempat tidur dengan seprai bernoda berat.

Putri sudah menjadi entertainer di kawasan Danau Tempe sejak tahun lalu. Sebelumnya, ia tinggal di lokasi lain yakni Jalan Danau Poso, Denpasar.

Putri tiba di Bali empat tahun lalu. Seorang temannya awalnya mengajaknya bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran. “Ternyata saya dijual di sana,” kata Putri.

Putri mengatakan penghasilannya sebagai PSK kini tidak menentu. Selain itu, adanya pandemi COVID-19 yang berdampak pada perekonomian.

Putri pernah menerima Rp 500.000 dalam waktu tiga jam sebelum COVID-19 menyebar. Johns juga datang ke rumah bordil itu sendiri. Namun, itu telah berubah sekarang.

“Sekarang, saya harus mendekat,” kata perempuan asal Surabaya ini.

Putri menyadari persaingan dunia prostitusi kini semakin ketat. Apalagi sejak munculnya aplikasi perpesanan seperti MiChat dan Telegram yang bisa menghubungkan hidung belang dengan pelacur.

Mereka cukup menyepakati tarif dan tempat tanggal sehingga tidak perlu lagi lokalisasi sebagai tempat pertemuan. Wanita berambut gondrong ini pernah mencoba menjual seks lewat MiChat. Namun, itu hanya berlangsung selama dua bulan.

Menurut Putri, mencari kepalan tangan melalui MiChat sangat berisiko. Karena dia tidak tahu siapa tamu itu. “Kadang gambarnya sama kalau ketemu, beda,” keluhnya.

Lokasi Jalan Danau Tempe

Putri lebih memilih nongkrong di Jalan Danau Tempe ketimbang buka reservasi (BO). Dia khawatir statusnya sebagai pelacur akan diketahui keluarganya.

“Hanya keluarga saya yang tahu kalau saya kerja di tempat karaoke,” terang perempuan beristri itu.

Jalan Danau Tempe terkenal sebagai lokalisasi di Denpasar. Petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menggerebek tempat itu berulang kali. Namun, lokalisasi masih ada.

Tak hanya di Telaga Tempe, lokalisasi juga ada di Jalan Tambaksari, Sanur, Denpasar, Bali. Salah satu PSK di sana adalah Sinta, bukan nama sebenarnya.

Sinta menjadi wanita malam karena terpaksa. Ia sudah melamar pekerjaan di berbagai tempat seperti laundry hingga pemilik toko. Namun, tidak ada yang mau menerimanya karena membawa putrinya bekerja.

“Ya karena sempit karena tidak mungkin mencari kerja di Bali bagi yang mau menerima TKI yang punya anak,” kata Sinta Rabu (1/11/2023). “Lagipula, hidup harus terus berjalan.”

Menurut Sinta, penghasilannya sebagai PSK tidak menentu. Terkadang, dalam semalam dia tidak pernah mendapat tamu sama sekali. Meski begitu, dia tidak tertarik beralih ke prostitusi online.

Sinta tetap selektif memilih tamu meski jumlahnya terus berkurang. Ia membutuhkan kepalan tangan yang mau berhubungan seks dengannya menggunakan kondom karena takut tertular HIV-AIDS.

“Kalau tidak mau pakai kondom, jangan dimasukkan,” kata perempuan 39 tahun itu.

——

Artikel ini telah diposting di detikBali dan selengkapnya dapat dibaca di sini.

Simak Video “5 Perempuan Dituduh Penggerebekan Prostitusi Online Satpol PP Kota Parepare”
[Gambas:Video 20detik]
(www www)